Istana Kedua : Ketika Poligami Dijadikan Pembenaran Untuk Berbagi

Arini bisa jadi merupakan perempuan yang beruntung dipersunting Pras, lelaki berhati lembut bak Pangeran dari negeri dongeng. Kehidupan mereka mungkin membuat Artis-artis yang kawin cerai menjadi sangat iri. Keidupan rumah tangga yang jauh dari prahara. Suami yang setia dan mesra, anak-anak yang lucu, rumah yang menyenangkan. Pernikahan Arini dan Pras mendekati sempurna. Namun semua itu runtuh ketika Arini mendapati kenyataan bahwa Pras ternyata memiliki istri lain, ya bukan wanita tapi istri tanpa sepengatahuan Arini.

Di lain kisah, Asma Nadia menceritakan perempuan keturunan bernama Mei Rose yang sejak kecil hidup menderita tumbuh menjadi sosok yang tidak mengenal cinta, kuat meski sebenarnya rapuh. Baginya, cinta hanyalah omong kosong, cinta hanyalah kisah dongeng yang tidak pernah ada di dunia nyata, setidaknya dalam kehidupan Mei Rose. Tapi seluruh pandangannya menjadi berubah ketika Mei bertemu dengan Roy, teman satu gedung tempat Ia bekerja. Roy bagaikan sosok pangeran yang selama ini hanya berada di negeri antah berantah. Hari-harinya tidak lagi dipenuhi rasa benci dan apatis, hari-harinya berubah menjadi taman surga. Hanya saja, itu tidak berlangsung lama. Roy bukanlah pangeran, ia tidak lebih dari sekedar musang berbulu domba.
Mei Rose terhempas ke dasar jurang yang telah lama ia tinggalkan. Kembali berteman dengan dinding-dinding hatinya yang keras, bahkan kini menjadi lebih keras. Namun Mei Rose bukanlah perempuan cengeng, Ia bangkit dan kembali menjalani kehidupannya. Mei Rose pun bertemu dengan laki-laki kedua bernama David. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Mei Rose lebih berhati-hati. Mereka pun terlibat dalam hubungan cinta yang rumit hingga Mei Rose harus menghadapi kenyataan bahwa Ia mengandung, buah dari kebiadaban Roy terhadap dirinya. David pun pergi menghilang. Mei menjadi sangat malu dan membenci dirinya sendiri. Semakin hari perutnya terlihat semakin membesar, sebesar kebenciannya pada janin yang dikandungnya.

Berbagai usaha dilakukan untuk membunuh kandungannya, namun si janin nampaknya terlalu kuat. Mei pun menjadi nekat, ia berinisiatif mencari orang yang mau melangsungkan pernikahan dengannya, sehari saja, untuk menutupi rasa malunya. Seluruh biaya akan ditanggung oleh Mei. Mei mengirim email spam ke banyak orang lalu hadirlah sosok Lukman yang bersedia membantunya. Pada awalnya semua berjalan mulus. Lukman digambarkan sebagai sosok yang alim, mengajari Mei tentang agama. Mei percaya dengan Lukman, Ia menyerahkan semua urusan pernikahan kepada Lukman. Mei hanya tinggal mengurus pembiayaan dan datang ke tempat acara pada hari pernikahan yang ditentukan. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pada hari pernikahannya digelar, di tempat yang telah ditentukan, Ia sama sekali tidak melihat namanya maupun nama Lukman terpampang, Ia malah melihat nama orang lain. Ia tidak mungkin salah dan pastilah ia telah ditipu. Mei tidak kuasa menahan rasa malunya, Ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah kota dan blarr… mobilnya mengalami kecelakaan hebat. Bagi Mei Rose, ini adalah kecelakaan yang membawa berkah karena mempertemukannya dengan sosok pangerang yang sebenarnya bernama Pras.

Dari sinilah konflik cinta segitiga antara Arini, Mei dan Pras mulai meruncing. Arini yang tidak berani menanyakan secara langsung kepada Pras. Pras yang hatinya terlalu baik namun tidak tegas. Dan Mei Rose yang merasa tidak bersalah karena Ia hanya ingin meminta Arini untuk berbagi kebahagiaan dengannya.

Menurut saya, ini adalah novel bertema poligami yang sangat ringan, jauh dari doktrin-doktrin agama dan kesan menggurui. Asma Nadia pada awalnya bercerita dengan alur maju mundur seolah tidak ada kaitan antara permasalahan Arini dengan Mei Rose. Semakin dibaca membuat semakin penasaran. Akhirnya novel setebal….. halaman ini berhasil saya habiskan dalam waktu dua jam dan diakhiri dengan tangisan mewek.

Asma Nadia seolah menganalogikan sosok Pras dengan alasan poligami yang sering kita dengar, yakni alasan ingin membantu. Sedangkan Arini adalah cermin istri pertama yang ‘tersakiti’ karena hati sang suami tidak lagi untuknya seorang. Yang saya suka adalah Asma juga menceritakan sudut pandang orang ketiga atau istri kedua secara gamblang, aspek inilah yang jarang sekali kita ketahui dari kisah suatu poligami.

Ada satu hal menarik dalam novel ini yaitu dikisahkan bahwa Ibu Arini pun ternyata pernah juga merasa tersakiti oleh Ayahnya yang ‘bermain’ di belakang. Di sini Asma Nadia seolah ingin menunjukkan bahwa laki-laki normal (baca:suami) pada suatu saat pasti pernah mengalami ketertarikan pada wanita lain ataupun terlibat dalam suatu hubungan yang ‘terlarang’. Mbak Asma seakan ingin menekankan pentingnya kemandirian dan ketegaran seorang Istri dalam rumah tangga, karena bagaimanapun keluarga bukanlah sekedar hubungan suami dan istri tapi juga anak-anak yang membutuhkan perhatian jauh lebih besar dibandingkan sekedar konflik cinta segitiga yang tidak berujung.

Anyway, novel ini siap mengaduk perasaan Anda dan menurut saya novel ini juga sangat direkomendasikan buat kaum pria. :-p

12 thoughts on “Istana Kedua : Ketika Poligami Dijadikan Pembenaran Untuk Berbagi

Add yours

  1. Bagaimana jika malah diposisi menjadi wanita ke3.. Mgkin bodoh sekali ya menurut kalian.. Aq sendiripun merasa bodoh namun tak berdaya karena cinta..

    Like

  2. Mbak maaf sebelumnya saya adalah istri ke 2,saya menjalin hubungan dg suami saya tanpa sepengetahuan istri pertama,jdi kita menjalin hubungan secara diam2 dari istri pertamanya,saya baca novel mbak asma nadia saya merasa bersalah tpi di sisi lain saya sudah sangat mencintai suami saya,saya tidak dapat melepaskan suami saya,,..meskipun terkadang saya merasa sakit hati dan iri :(,,..apa yang akan saya lakukan menurut mbak asma

    Like

    1. Maaf mbak nita, sebelumnya saya mau konfirmasi bahwa saya bukan mbak Asma Nadia tapi saya hanya menulis review bukunya saja 🙂 semoga Allah memberikan jalan terang untuk segala permasalahn mbak Nita
      Salam Hangat

      Like

  3. Yulitaningsih: tidak fair jika penderitaan yang diceritakan tentang perempuan kedua, adalah penderitaannya sebagai istri kedua, tp di Istana Kedua yang diceritakan sebagai penderitaan adalah background si perempuan kedua, saya kira ini hal berbeda. But any opinion will do.

    Like

  4. Cerita ini, menyentuh perasaan… Namun aq kurang setuju, alur cerita lebih banyak mnceritakan penderitaan wanita ke 2, tanpa mnceritakan lebih gamblang lg ttng wanita pertama … Jadi tdk fair

    Like

Mind to share your comments ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Up ↑

%d bloggers like this: